Hubungan Psikologi dengan Biologi
Menurut KBBI, biologi adalah ilmu tentang keadaan dan sifat makhluk hidup.
Sederhananya, biologi adalah ilmu hayat karena mempelajari tentang kehidupan. Objek
biologi adalah seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Oleh karena itu, tidak
heran cakupan biologi sangatlah luas. Namun, terdapat beberapa perbedaan dari
kedua ilmu ini.
Sama seperti psikologi, salah satu
objek material biologi adalah manusia. Yang membedakan keduanya adalah
psikologi merupakan bidang ilmu yang subjektif, sementara biologi merupakan
bidang ilmu yang objektif. Menurut Bonner (dalam Sarwono, 1997:17), biologi dikatakan
sebagai ilmu yang objektif karena pada biologi, manusia dipelajari sebagai
objek atau jasad (fisik), sementara psikologi mempelajari manusia sebagai subjek
[2]. Maksud dari mempelajari manusia sebagai subjek adalah psikologi
mempelajari penginderaan dan persepsi manusia yang mana hal ini bukan menjadi
fokus utama dalam mempelajari biologi.
Meskipun memiliki perbedaan sudut pandang, kedua ilmu ini saling bersinggungan. Terdapat satu cabang ilmu psikologi yang disebut biopsikologi (behavioral neuroscience). Biopsikologi adalah salah satu cabang ilmu dari psikologi yang mempelajari tentang pengaruh sistem saraf, otak, hormon, dan genetika terhadap perilaku manusia. Dalam biopsikologi, kita dapat menyadari bahwa antara psikologi dan biologi terjadi timbal balik. Misalnya, ditemukan bahwa faktor genetik dan ketidakseimbangan hormon menjadi faktor-faktor yang turut berpartisipasi sebagai penyebab gangguan mental skizofrenia.
Hubungan Psikologi dengan Sosiologi
Dikutip dari KBBI, sosiologi
merupakan ilmu pengetahuan atau ilmu tentang sifat dan perkembangan masyarakat,
ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya [3].
Antara psikologi dan sosiologi, sama-sama mempelajari mengenai manusia, namun
sosiologi mengkaji manusia sebagai suatu kesatuan di masyarakat sementara
psikologi mengkaji gejala jiwa serta tingkah laku manusia sebagai individu.
Manusia merupakan komponen utama di dalam masyarakat.
Sosiologi dan psikologi saling berkaitan erat sebagai ilmu yang mempelajari
mengenai manusia. Karena terdapat persamaan ini, muncullah cabang ilmu baru
dalam psikologi, yaitu psikologi sosial. Psikologi sosial adalah cabang
psikologi yang bertujuan mendeskripsikan, menjelaskan, meramalkan,
mengendalikan, dan merekayasa perilaku dan proses kejiwaan individu yang
dipengaruhi kehadiran orang lain (Hanurawan, 2010) [6]. Misalnya,
terjadi gejala sosiologi terkait urbanisasi atau konflik yang terjadi antarkelompok,
dimana gejala-gejala seperti ini membutuhkan penjelasan dari sudut pandang
psikologi.
Menurut Gerunagan, hubungan antara psikologi, sosiologi, dengan psikologi sosial dapat digambarkan pada diagram berikut ini:
Sementara itu, menurut Secord & Backman (1964), perilaku individu dalam interaksi sosial dapat dianalisis dengan tiga macam sistem yaitu the personality system, the social system, dan the cultural system yang dapat diilustrasikan dalam diagram berikut [13].
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa psikologi dan sosiologi merupakan ilmu yang saling melengkapi. Tidak sempurna jadinya jika hanya meninjau manusia sebagai individu yang berdiri sendiri dan tidak memperhatikan lingkungan atau masyarakat di sekitarnya.
Hubungan Psikologi dengan Filsafat
Dari segi historis, psikologi
memiliki kaitan yang sangat erat dengan filsafat. Sebelum tahun 1879, psikologi
dianggap sebagi bagian dari filsafat karena fokus dari kedua ilmu tersebut pada
zaman itu adalah mengenai gejala jiwa. Pada tahun 1879, Wilhelm Maximilian
Wundt mendirikan laboratorium psikologi di Leipzig sehingga gejala-gejala
kejiwaan ini dapat diselidiki secara menyeluruh dan sistematis. Seiring
berjalannya waktu, ditemukanlah metode-metode baru yang menghasilkan pembuktian
yang nyata sehingga teori-teori psikologi mulai bermunculan. Akhirnya,
psikologi dapat berdiri sendiri sebagai ilmu yang mempelajari mengenai perilaku
manusia.
Masih ditelusuri dari segi
historisnya, filsafat memiliki banyak teks kuno yang mempelajari mengenai
konsep jiwa serta perilaku manusia, misalnya teks kuno Aristoteles dan Thomas
Aquinas. Melalui teks-teks kuno ini, psikolog bisa mendapatkan sudut pandang
baru mengenai psikologi. Maka dari itu, filsafat berfungsi untuk menegaskan
akar historis dari psikologi.
Psikologi dan filsafat adalah ilmu
yang saling melengkapi. Filsafat adalah ilmu yang mempertanyakan sementara
psikologi adala ilmu yang menjawab pertanyaan tersebut melalui metode-metode
penelitian yang ada. Psikolog dapat berfilsafat untuk menemukan masalah yang
dihadapi oleh kliennya sehingga dapat dipikirkan solusi atau langkah selanjutnya
yang harus ditempuh. Dengan berfilsafat, psikolog, praktisi, maupun akademisi
dapat melatih kerangka berpikir yang radikal, logis, rasional, dan sistematis
mengunakan ilmu logika. Akan tetapi, jika psikolog hanya berfilsafat saja tanpa
dilakukan penelitian-penelitian berdasarkan teori psikologi, maka hasilnya akan
berat sebelah. Oleh karena itu, psikologi dapat menolong filsafat dalam
penarikan kesimpulan atas suatu masalah yang berhubungan dengan kejiwaan.
Terdapat beberapa cabang ilmu
filsafat yang mempengaruhi psikologi, salah satunya adalah eksistensialisme.
Eksistensialisme dapat diartikan sebagai paham bahwa tiap orang harus men
menciptakan makna di alam semesta yang tak jelas, kacau, dan tampak hampa ini.
Dengan mendalami eksistensialisme, psikolog serta akademisi dapat merefleksikan
masalah manusia sebagai individu, misalnya tentang makna, kecemasan,
otentisitas (keadaan yang disadari), dan tujuan hidup.
Cabang
selanjutnya adalah etika. Filsafat etika adalah ilmu yang mempelajari mengenai
baik atau buruknya suatu hal, singkatnya filsafat etika mempelajari mengenai
moral. Etika ini dapat dijadikan oleh para psikolog untuk melaksanakan
penelitiannya sesuai dengan nilai-nilai moral dasar. Untuk itu, filsafat etika
ini dijadikan panduan etis dalam bekerja yang selanjutnya akan diterjemahkan ke
dalam kode etik profesi psikologi.
Dalam
filsafat, dikenal metode fenomenologi, metode fenomenologi adalah pendekatan
yang dilakukan dengan melihat tingkah laku seseorang yang dikaitkan mdengan fenomena
tentang dirinya. Artinya, pendekatan secara fenomenologi memperhatikan
pengalaman sujektif individu yang tingkah lakunya dipengaruhi oleh pandangan
individu terhadap konsep tentang dirinya, harga dirinya, dan aktualisasi
dirinya. Fenomenologi ingin memahami benda sebagai mana adanya. Slogan
fenomenologi adalah kembalilah kepada obyek itu sendiri. Semua asumsi ditunda
terlebih dahulu, supaya obyek bisa tampil apa adanya kepada peneliti. Metode
fenomenologi dapat dijadikan alternatif dari pendekatan kuantitatif, yang
memang masih dominan di dalam dunia ilmu psikologi di Indonesia. Dengan
menggunakan metode ini, penelitian psikologi akan menjadi semakin manusiawi, dan
akan semakin mampu menangkap apa yang sesungguhnya terjadi di dalam realitas.
Filsafat
berfungsi untuk mengangkat asumsi-asumsi dalam psikologi serta mengkritik
asumsi tersebut. Asumsi-asumsi itu dibagi menjadi tiga, yaitu asumsi
antropologis, asumsi metafisis, dan asumsi epistemologis. Kritik terhadap
asumsi tersebut dilakukan agar psikologi dapat berkembang menjadi ilmu yang
lebih manusiawi serta dapat memahami realitas kehidupan manusia.
Dari segi psikologi sosial, filsafat dapat memberikan sudut pandang baru mengenai teori-teori sosial kontemporer. Di dalam filsafat sosial, yang merupakan salah satu cabang filsafat, para filsuf diperkaya dengan berbagai cara memandang fenomena sosial-politik, seperti kekuasaan, massa, masyarakat, negara, legitimasi, hukum, ekonomi, maupun budaya. Dengan teori-teori yang membahas semua itu, filsafat sosial bisa memberikan sumbangan yang besar bagi perkembangan psikologi sosial, sekaligus sebagai bentuk dialog antar ilmu yang komprehensif.
Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan alam memiliki cakupan yang begitu luas. Jika psikologi hanya mempelajari mengenai benda hidup (manusia), maka ilmu pengetahuan alam mempelajari mengenai alam secara sistematis, yang berarti ilmu pengetahuan alam juga mempelajari mengenai benda mati. Meskipun demikian, keduanya memiliki persamaan dalam metode penelitiannya, yaitu metode induktif. Metode penelitian psikologi ini melalui proses hipotesis yang kemudian dilanjutkan dengan pembuktian melalui eksperimen. Selain itu, terdapat metode psikologi lain yang dipengaruhi oleh metode ilmu pengetahuan alam, yaitu metode psikofisik yang digunakan oleh Fachner. Metode psikofisik merupakan metode tertua dalam lapangan psikologi eksperimental, metode ini banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam (Woodworth, 1951) [12].
Hubungan Psikologi dengan Pendidikan
Pendidikan dapat diartikan sebagai
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan
merupakan sebuah proses interaksi dan pelatihan antara dua orang atau lebih,
antara guru dan peserta didik yang mana menghasilkan suatu perubahan sikap dan
tingkah laku kearah yang lebih baik [11]. Ilmu pendidikan merupakan
suatu disiplin yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup kepada manusia sejak
ia lahir sampai ia meninggal.
Sama seperti ilmu lainnya, antara
psikologi dan ilmu pendidikan memiliki hubungan timbal balik, psikologi sangat
dibutuhkan dalam dunia pendidikan karena pendidik perlu memahami dasar-dasar
psikologis untuk mengetahui karakteristik anak didiknya, misalnya apakah anak
didiknya mengalami keterlambatan belajar, bagaimana cara belajar yang cocok
untuk anak didiknya, metode pendekatan seperti apa yang sebaiknya dilakukan
tenaga pendidik untuk menyampaikan pembelajaran, dan lain sebagainya. Karena
kaitannya yang erat itu, maka lahirlah cabang ilmu yang dinamakan psikologi
pendidikan.
Reber (dalam Sobur, 2003: 71) menyebut psikologi pendidikan sebagai subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal, seperti penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas, pengembangan dan pembaruan kurikulum, evaluasi bakat dan kemampuan, sosialisasi proses-proses dan interaksi dengan pendayagunaan ranah kognitif, serta penyelenggaraan pendidikan keguruan.
Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan pendidik dalam melaksanakan tugas profesionalnya, karena pendidik harus mampu memahami perubahan yang terjadi pada diri individu, baik perkembangan maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu pula pendidik perlu memahami landasan pendidikan dari sudut psikologis. Dengan demikian, psikologi adalah salah satu landasan pokok dari pendidikan. Subyek dan obyek pendidikan adalah manusia, sedangkan psikologi menelaah gejala-gejala psikologis dari manusia. Dengan demikian, keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
