Summary
Nestlé merupakan perusahaan makanan dan minuman yang didirikan oleh Henri Nestlé , seorang ahli obat-obatan asal Jerman-Swiss, pada tahun 1867. Nestlé pada masa kini mempunyai cabang di 187 negara yang berbeda. Slogan “Good food, Good life” menjadi tujuan Nestlé untuk dapat mengembangkan produk makanan dan minuman demi meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan para konsumennya. Dalam esai ini akan dibahas mengenai manajemen global Nestlé dan perencanaan strategi yang digunakan Nestlé dalam mengembangkan perusahaannya. Manajemen global yang akan dibahas meliputi perspektif global Nestlé , tipe organisasi Nestlé , serta cara Nestlé beroperasi secara global. Sementara itu, pada bagian perencanaan strategi akan dibahas mengenai strategi Nestlé pada level korporat dan strategi kompetisinya.
A. Profil Nestlé
Sejarah Nestlé dimulai pada tahun 1867 ketika Henri Nestlé mengembangkan makanan bayi berbahan dasar susu, tepung gandum, dan gula untuk bayi yang malnutrisi. Pada masa itu, sedang terjadi krisis ekonomi dan bahan pangan sehingga banyak ibu yang tidak bisa menyusui bayinya. Produk yang dikembangkan Henri Nestlé itu dinamai Farine Lactée. Farine Lactée berhasil menyelamatkan hidup bayi-bayi yang malnutrisi dan selanjutnya Henri melakukan produksi massal untuk Farine Lactée di Eropa. Pada tahun 1905, Nestlé bergabung dengan perusahaan susu kondensasi di Eropa bernama Anglo-Swiss setelah sekian lama bersaing dalam industri makanan dan minuman. Bersama dengan Anglo-Swiss, Nestlé mengembangkan perusahaannya hingga ke Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Australia.
Pada masa ini, Nestlé merupakan perusahaan multinasional yang bergerak di bidang produksi makanan dan minuman. Nestlé memiliki lebih dari 2000 brand yang meliputi produk-produk berupa makanan bayi, susu bubuk, susu kondensasi, minuman kemasan, sereal, camilan, kopi, makanan beku, makanan hewan peliharaan, bahkan sampai produk kesehatan dan kosmetik. Perusahaan yang berpusat di Vevey, Swiss ini beroperasi di 187 negara. Sesuai dengan slogannya, “Good food, Good life”, Nestlé berambisi untuk mengembangkan produk makanan dan minuman demi meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan para konsumennya.
B. Manajemen Global Nestlé
1) Perspektif Global Nestlé
Dalam mengembangkan brand-nya, Nestlé memakai pendekatan polisentris yang artinya Nestlé melakukan kustomisasi dan lokalisasi terhadap brand-nya sesuai dengan negara tempatnya beroperasi. Sebagian besar produk Nestlé dikelola dengan bahan-bahan, resep, teknologi, dan strategi pemasaran yang berbeda-beda. Hal ini dilakukan Nestlé sebagai perusahaan besar agar bisa lebih dekat dengan konsumen-konsumennya yang tersebar di berbagai macam negara (Nestlé Annual Report, 2019:18).
Peluncuran KitKat di Jepang menjadi salah satu kesuksesan terbesar Nestlé dalam melakukan lokalisasi. Di Jepang, nama brand “KitKat” ditransliterasi menjadi “Kitto Katto” (キットカット) yang mirip secara fonetis dengan frasa “Kitto Katsu” (きっと勝つ) yang berarti “pasti menang” (Layne Vandenberg, 2019). Oleh karena itu, KitKat menjadi sangat populer di kalangan muda-mudi Jepang, terutama saat masa-masa ujian karena banyak siswa yang membeli KitKat sebagai hadiah kecil tanda keberuntungan. Selain itu, Nestlé mengembangkan sekitar 350 varian rasa KitKat yang hanya ada di Jepang, seperti adzuki (kacang merah), kecap asin, edamame, wasabi, mochi, dan varian lain yang merepresentasikan budaya Jepang.
2) Tipe Organisasi Global Nestlé
Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, perspektif global Nestlé adalah polisentris. Artinya, tipe perusahaan Nestlé adalah perusahaan multidomestik. Perusahaan multidomestik adalah perusahaan yang pengambilan keputusannya menggunakan sistem desentralisasi. Dalam bisnisnya, Nestlé memberikan wewenang kepada local manager dalam segala pengambilan keputusan. Meskipun begitu, headquarter level-lah yang tetap berwenang dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan strategi jangka panjang.
Sebagai perusahaan yang memiliki product line yang banyak dan beragam, Nestlé harus fleksibel dalam beradaptasi dengan budaya di negara tempatnya beroperasi. Oleh karena itu, fokus utama dari perusahaan ini adalah membangun hubungan dengan konsumen agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan konsumen yang beragam.
3) Bagaimana Nestlé Mulai Mendunia?
Perkembangan Nestlé hingga mendunia telah dimulai sejak pecahnya Perang Dunia I. Pada masa itu, permintaan susu kondensasi dan coklat sangat tinggi. Kemudian, bergabungnya Nestlé dengan Anglo-Swiss, mendorong perusahaan ini dalam membuka sekitar 20 subsidiaries di beberapa negara, meliputi Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Australia.
Nestlé melakukan joint venture dengan perusahaan-perusahaan di industri makanan dan minuman. Berdasarkan data dari website resmi Nestlé, berikut adalah perusahaan-perusahaan yang melakukan joint venture dengan Nestlé:
Pada tahun 1991, Nestlé melakukan joint venture dengan General Mills membentuk Cereal Partners Worldwide dan menghasilkan 50 lebih brand sereal.
Pada tahun 1991, Nestlé dan Coca Cola melakukan joint venture membentuk Beverage Partners Worldwide dengan pembagian saham sebesar 50%-50%. Produk yang mereka keluarkan adalah produk teh kemasan, yaitu Nestea. Namun, kerja sama ini berakhir pada tahun 2018.
Pada tahun 2006, Lactalis Nestlé Produits Frais dibentuk sebagai hasil joint venture antara Nestlé dengan Lactalis Groupe. Lactalis Groupe mendapat 60% keuntungan sementara Nestlé mendapatkan 40% sisanya. Perusahaan tersebut memproduksi yogurt dan dessert dingin lainnya.
Pada tahun 2016, perusahaan es krim, Froneri dibentuk sebagai hasil dari joint venture antara PAI Partners dengan Nestlé.
Selain itu, Nestlé bersama dengan Starbucks menandatangani kesepakatan licensing sebesar 7,15 miliar dolar. Kesepakatan ini memberikan izin pada Nestlé untuk memproduksi dan menjual kopi dan teh dengan kemasan Starbucks di pasar internasional. Dari kerja sama ini, Nestlé mendapatkan hasil penjualan tahunan sekitar 2 miliar dolar. Kerja sama ini juga memperkuat bisnis kopi Nestlé serta membuka peluang perluasan bisnis bagi Starbucks.
Tentunya Nestlé juga melakukan ekspor produk-produknya ke negara-negara lain, yaitu ke Jepang, India, China, Indonesia, dan negara-negara subsidiaries lainnya. Selain itu, impor Nestlé juga melakukan impor produk, salah satunya adalah impor Milo Malt dan Cerelac ke Indonesia.
C. Perencanaan Strategi Nestlé
1) Strategi Korporasi Nestlé
Berdasarkan Annual Report yang dikeluarkan Nestlé pada tahun 2019, growth strategy yang dilakukan Nestlé adalah meningkatkan pertumbuhan melalui inovasi-inovasinya. Lalu, Nestlé juga berinvestasi di negara-negara dengan pertumbuhan pasar paling tinggi. Investasi yang dilakukan Nestlé ini ini membuat penjualan meningkat sebanyak 4,7%.
Sebagai perusahaan yang berfokus pada industri makanan dan minuman, Nestlé memiliki misi untuk terus mengembangkan produknya. Karena itulah Nestlé lebih mengembangkan growth strategy-nya secara integrasi vertikal. Nestlé melakukan beberapa akusisi pada tahun 2020 ini, yaitu dengan Lily’s Kitchen (bisnis makanan hewan premium) dan Vital Proteins (brand produk kolagen). Akusisi ini dilakukan untuk mengembangkan portfolio Nestlé menuju arah bisnis yang lebih tinggi pertumbuhannya.
Dalam renewal strategy-nya, Nestlé melakukan perbaikan (retrenchment) pada beberapa bisnisnya yang mengalami penurunan performa. Pada tahun 2020, perusahaan air mineral Nestlé , Nestlé Waters, bergabung dengan Group’s three geographical Zones. Penggabungan ini disertai dengan fokus terhadap segmen produk air berperisa. Selain itu, Nestlé juga berencana untuk melakukan strategi turnaround dan restrukturisasi organisasi pada bisnis makanan bayi Gerber yang hampir mengalami kebangkrutan.
2) Strategi Kompetisi Nestlé
Dalam berkompetisi, Nestlé melakukan cost leadership strategy. Pada strategi ini, Nestlé melakukan pengurangan biaya operasional dalam kegiatan manufaktur, pembelian, dan administrasi. Pada kegiatan manufaktur, Nestlé menutup 16 pabriknya dan mengurangi fixed overhead sebanyak 5,5% di tahun 2019. Selain itu, Nestlé melakukan spesifikasi dalam menentukan raw material dan packaging material sehingga biaya produksi dapat dikurangi.
Selain itu, Nestlé juga melakukan differentiation strategy, yang mana mereka terus mengembangkan produk yang unik dan diminati oleh konsumennya di seluruh dunia. Dalam hal ini Nestle terus meneliti tren yang berlaku di kalangan konsumen sehingga produknya di masing-masing negara pun berbeda-beda, misalnya adalah produk krimer dan es krim non-diary dan plant-based burger di Amerika Serikat serta plant-based drinks di Brazil. Strategi tersebut juga merupakan cost strategy, dimana Nestle menarget pada pasar yang sempit namun tetap mendapatkan cost advantage yang besar, yaitu pasar vegetarian dan vegan.
D. Kesimpulan
Berdasarkan penjabaran di atas, kita dapat mengetahui bahwa Nestlé merupakan perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia. Pendiri perusahaan ini adalah Henry Nestlé dengan produk pertamanya yang dinamakan Farine Lactée. Pada masa kini, Nestlé telah mendirikan sekitar 187 cabang di berbagai negara dan memiliki sekitar 2000 brand yang terdiri dari sereal, makanan bayi, susu kondensasi, makanan hewan, dan lain-lain.
Lalu dalam manajemen globalnya, Nestlé menggunakan pendekatan secara polisentris dimana produk-produknya menyesuaikan dengan budaya, kebiasaan, dan tren negara tempat Nestlé beroperasi. Contoh kesuksesan Nestlé dalam melakukan pendekatan secara polisentris adalah peluncuran KitKat di Jepang. Karena melakukan pendekatan secara polisentris, maka tipe perusahaan Nestlé adalah perusahaan multidomestik dimana pengambilan keputusan dilakukan oleh local manager, kecuali pengambilan keputusan yang berhubungan dengan strategi jangka panjang. Metode-metode yang Nestlé gunakan agar dapat mendunia adalah dengan membangun subsidiaries di berbagai negara, melakukan joint venture dengan perusahaan di industri yang sama, menandatangani perjanjian licensing dengan Starbucks, serta melakukan eskpor dan impor.
Dalam perencanaan strateginya, Nestlé lebih berfokus pada growth strategy, yaitu dengan cara inovasi produk, investasi di negara-negara dengan pertumbuhan pasar yang tinggi, serta melakukan akusisi dengan beberapa perusahaan. Sementara itu, pada renewal strategy-nya, Nestlé melakukan perbaikan dan terhadap bisnis Nestlé Waters dan Gerber. Sementara itu dalam strategi kompetitifnya, Nestle melakukan cost-leadership strategy, differentiation strategy, dan cost strategy. Dalam cost-leadership strategy-nya, Nestle berusaha mengurangi biaya operasionalnya sementara salah satu contoh differentiation strategy, dan cost strategy-nya Nestle membuat menarget pasar vegan dengan membuat produk-produk yang berbahan dasar tanaman.
Referensi
Amelia Lucas. 2019, Juni. Nestle gears up to launch its own plant-based burger in the US. Diakses pada 14 Desember 2020, dari https://www.cnbc.com/2019/06/03/nestle-gears-up-to-launch-its-own-plant-based-burger-in-the-us.html#:~:text=Nestle's%20Sweet%20Earth%20brand%20will,vegan%20burger%20is%20soy%2Dbased.
Editor-editor Britannica Encyclopaedia. 2020, Februari. Nestlé SA, Swiss Manufacturer. Diakses pada 11 Desember 2020, dari https://www.britannica.com/topic/Nestlé -SA
English Tea Store. (n.d.). History of Nestlé. Diakses pada 11 Desember 2020, dari https://www.englishteastore.com/Nestlé -history.html
Eric Schroeder. 2018, Agustus. Nestlé , Starbucks close licensing deal. Diakses pada 11 Desember 2020, dari https://www.foodbusinessnews.net/articles/12417-Nestlé -starbucks-close-licensing-deal
Froneri. 2019, Desember. Froneri Moves Towards Global Leadership with Acquisition of Nestlé USA’s Ice cream Business. Diakses pada 12 Desember 2020, dari https://www.froneri.com/news/froneri-moves-towards-global-leadership-with-acquisition-of-nestl%C3%A9-usa-s-ice-cream-business/
Gerber Recognized For Successful Turnaround. 2009, November. Diakses pada 14 Desember 2020, dari https://www.pmmag.com/articles/94056-gerber-recognized-for-successful-turnaround
Layne Vandenberg. 2019, Agustus. The Kit Kat in Japan, a Transliteration Success. Diakses pada 11 Desember 2020, dari https://thediplomat.com/2019/08/the-kit-kat-in-japan-a-transliteration-success/
Nestlé. (n.d.). Cereal Partners Worldwide. Diakses pada 11 Desember 2020, dari https://www.Nestlé .com/aboutus/overview/businesses/cereal-partners-worldwide
Nestlé. (n.d.). The Nestlé Company History. Diakses pada 11 Desember 2020, dari https://www.Nestlé .com/aboutus/history/Nestlé -company-history
Nestlé. (n.d.). Our strategy: The choices we make. Diakses pada 14 Desember 2020, dari https://www.Nestlé .com/aboutus/strategy
Nestle. 2019. Annual Review 2019. Diakses pada 14 Desember 2020, dari https://www.nestle.com/sites/default/files/2020-03/2019-annual-review-en.pdf
Nestlé. 2005, Desember. Nestlé and Lactalis Plan Common European Chilled. Diakses pada 12 Desember 2020, dari https://www.Nestlé .com/media/pressreleases/allpressreleases/lactalisplaneurope-15dec05
Proyectofundamentosempresa. 2019, Januari. Nestlé ´s organization. Diakses pada 11 Desember 2020, dari https://nestnalysis2019.wordpress.com/2019/01/20/Nestlé s-organization/
Steven Mike Voser. 2017, September. The language of success: how localization helped these 3 businesses dominate overseas markets. Diakses pada 11 Desember 2020, dari https://www.yuqo.com/language-success-localisation-helped-3-businesses-dominate-overseas-markets/
Stefan Palzer. 2018, Oktober. Driving innovation, We're moving fast to meet new consumer trends. Diakses pada 14 Desember 2020, dari https://www.nestle.com/stories/nestles-innovation-rapidly-changing-environment
No comments:
Post a Comment